Analisis Konsep Renaissance Dalam Konteks Islam Menurut Seyyed Hossein Nasr (Bagian 1)

Dewasa ini, dunia Islam seringkali mengalami pergolakan pemikiran yang dalam beberapa kasus tertentu erat kaitannya dengan Barat. Terkadang beberapa kalangan pemikir Islam melancarkan kritik keras kepada Barat, justru ketika banyak masyarakat Islam terbuai dalam aliran westernisasi. Mungkin jika direfleksikan ulang, westernisasi bisa dikatakan sebagai model baru dari imperialisme Barat terhadap dunia Islam. Sebab— baik westernisasi atau imperialisme—sama-sama menyerang kebudayaan agar afiliasi dari suatu kebudayaan tercabut dari akarnya. Paradoks lain bahkan muncul ketika orang-orang Barat juga mulai penasaran terhadap ajaran Islam. Kiranya situasi kebingungan itu yang kemudian mengantarkan pertanyaan mengenai bagaimana sejatinya ajaran Islam mampu dihayati sedemikian jauh bagi pemeluk-pemeluknya.

Salah seorang tokoh dalam tradisi filsafat Islam, Seyyed Hossein Nasr, mengemukakan bahwa untuk merespons situasi yang penuh dengan situasi kebingungan maka perlu ada sebuah dobrakan sebagai upaya memecahkan persoalan. Nasr menawarkan sebuah solusi dengan mengatakan bahwa prinsip-prinsip Islam harus ditegaskan kembali dan ajaran tersebut perlu dimanifestasikan pada tradisi-tradisi yang bersumber kepada Al-Qur’an. Hal tersebut sekaligus juga sebagai jalan memperkenalkan Islam kepada manusia-manusia Barat—dikatakan oleh Nasr—yang sedang mengalami kenestapaan karena telah diperosokkan oleh modernitas. Tetapi yang menurut hemat kami lebih penting adalah bagaimana ketika Nasr mencoba mengupayakan Islam untuk menghasilkan produk pemikiran yang autentik. Nasr tidak melihat bahwa dengan meniru Barat, Islam akan mengalami kemajuan. Sebaliknya, jika masyarakat Islam mampu menjalankan kembali budaya-budaya yang bersumber kepada Al-Qur’an, justru akan mampu menghasilkan pemikiran dan kehidupan yang lebih baik.

Dalam karyanya yang berjudul “Islam and the Plight of Modern Man”, Nasr mencoba untuk mengajak pembacanya merenungi lebih jauh beberapa hal yang terdapat dalam tradisi pemikiran Islam. Saat ini ketika rasa kebersamaan dan solidaritas antar umat Islam mulai mengikis, modernisasi adalah salah satu hal yang bertanggung jawab mengenai itu. Sejatinya mengenai respon terhadap dunia modern, dalam Islam tidak sepenuhnya sepaham. Ada beberapa reaksi yang secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu reformis dan fundamentalis.

Atas dasar itu maka tidak bijak jika kita hanya berhenti pada upaya menunjuk yang lain tanpa mempertanyakan apa yang saat ini kita—sebagai umat Islam—alami. Untuk itu, perlu adanya suatu budaya membicarakan Islam di dunia Islam itu sendiri. Pembicaraan tersebut harus terpisah dari unsur-unsur lain yang bersifat anti Islam atau sekedar non-Islam. Juga tidak boleh luput untuk memisahkan unsur-unsur yang secara diam-diam masuk ke dunia Islam dengan tujuan menggerogoti persatuan dan jalinan kebersamaan umat Islam.

Setelah menguraikan keadaan Islam beserta masalah-masalah umum yang dihadapi, menarik untuk kemudian meninjau persoalan yang lebih khusus. Hadirnya modernisme ternyata lebih jauh menimbulkan masalah bagi beberapa pemeluk Islam. Salah satu permasalahan itu adalah upaya universalisasi penggunaan berbagai istilah. Bila kita tarik lebih jauh ke belakang, dunia ilmu pengetahuan Islam klasik memiliki istilah-istilah di setiap cabang sains yang pendefinisiannya dilakukan secara jelas dan penggunaannya tidak dilakukan secara serampangan. Tetapi pada tradisi pemikiran Islam modern, telah timbul suatu kecenderungan untuk memberikan tafsir ganda dan penggunaan istilah penting dilakukan kadang tidak sesuai dengan konteksnya. Terutama bila istilah tersebut muncul di Barat, penarikan istilah tersebut secara sembarangan ke dunia Islam hanya akan memperlihatkan rasa rendah diri dan tunduk terhadap upaya-upaya universalisasi yang dilakukan oleh Barat.

Salah satu hal yang kemudian sering digunakan dalam berbagai teks karya pemikir Islam, adalah mengenai istilah Renaissance. Menurut Nasr, kalangan pemikir modern sering menggunakan istilah Renaissance secara sembarang dan mengidentikkan aktivitas dalam dunia Islam sebagai sebuah Renaissance. Dalam “Islam and the Plight of Modern Man”, Nasr menyatakan keberatannya dan berpendapat bahwa konsep Renaissance dalam konteks Islam harus dimaknai dengan jelas. Sebab istilah Renaissance memiliki konteks historis dan budaya yang sangat spesifik di Barat, sehingga tidak sepenuhnya sesuai atau dapat diterapkan dalam konteks peradaban Islam tanpa analisis yang mendalam. Renaissance di Barat menggambarkan kebangkitan kembali pemikiran dan seni klasik setelah era kegelapan, sebuah periode yang memiliki karakteristik berbeda dengan perkembangan sejarah peradaban Islam.

Menurut pandangan Nasr, para pemikir Islam harus mempertahankan orisinalitas dan integritas intelektual mereka dengan tidak hanya mengadopsi istilah-istilah dari Barat secara langsung. Sebaliknya, mereka perlu mengembangkan terminologi dan konsep yang berakar kuat dalam tradisi dan warisan intelektual Islam.

Dengan demikian, penggunaan istilah seperti Renaissance harus disesuaikan dengan pengalaman dan sejarah Islam yang unik, tanpa menghilangkan makna aslinya dalam konteks Barat. Tantangan ini menekankan perlunya kesadaran kritis dan pemahaman mendalam ketika melakukan proses adopsi dan penyesuaian istilah-istilah asing. Hal ini berlaku tidak hanya pada istilah Renaissance, tetapi juga pada berbagai konsep dan terminologi lain yang diimpor dari Barat ke dalam diskursus intelektual Islam modern. Melalui pendekatan yang lebih hati-hati dan mendalam, pemikir Islam dapat menghindari penyederhanaan dan kesalahpahaman yang dapat merusak integritas dan orisinalitas tradisi intelektual mereka. Pada akhirnya penting untuk kemudian kita melihat bagaimana gagasan mengenai Renaissance yang ditawarkan Nasr akan sesuai dengan nilai-nilai orisinalitas Islam atau justru terjerembab pada pendefinisian istilah secara serampangan.

Lebih baru Lebih lama