Siapa
yang tak ingat film “Janji Joni” Bagi generasi 90-an hingga awal 2000-an, film
karya Joko Anwar ini mungkin adalah salah satu tontonan lokal yang memberikan
kesan mendalam. Berlatarkan Jakarta dengan segala dinamikanya, film ini
menghadirkan Nicholas Saputra sebagai Joni, seorang kurir roll film yang
hidupnya penuh petualangan tak terduga demi satu hal yaitu cinta.
Janji
Joni mengusung premis yang sederhana, namun cukup unik dan berbeda dari film
komedi-romantis kebanyakan. Joni, yang diperankan oleh Nicholas Saputra, adalah
seorang kurir roll film yang mengaku tak pernah gagal mengantar roll tepat
waktu. Pekerjaan ini mungkin terdengar remeh di era digital saat ini, namun
pada masa itu, tanpa Joni, film tak akan bisa diputar di bioskop. Dan Joni tahu
betul bahwa pekerjaannya yang dianggap sepele sebenarnya sangat penting.
Namun,
pada satu hari, Joni bertemu dengan seorang perempuan cantik bernama Angelique
(Mariana Renata). Joni yang terpikat pada pandangan pertama, memberanikan diri
mengajak Angelique berkenalan. Namun, Angelique memberinya tantangan, Joni
harus bisa mengantarkan roll film tepat waktu jika ingin mengetahui namanya.
Tentu saja, Joni yang optimis langsung setuju, apalagi ia punya rekor tak
pernah terlambat!
Tapi,
di sinilah petualangan sebenarnya dimulai. Apa yang awalnya tampak mudah justru
berubah menjadi perjalanan penuh kesialan yang menguji komitmen Joni. Dari
motor yang dicuri, kejadian tak terduga di lokasi syuting, hingga tas berisi
roll film yang hilang, berbagai halangan datang silih berganti, membuat
penonton ikut merasa deg-degan sekaligus tertawa.
Salah
satu kekuatan Janji Joni adalah naskahnya yang cerdas dan segar. Joko Anwar
berhasil menulis cerita dengan humor yang ringan tapi tajam, diselingi kritik
sosial yang disampaikan melalui adegan-adegan komedi yang menghibur. Misalnya,
kritik tentang pekerjaan-pekerjaan yang sering dianggap remeh oleh masyarakat.
Joni, yang bekerja sebagai kurir roll film, menjadi representasi dari profesi
yang dipandang sebelah mata, namun sebenarnya memegang peranan penting, tanpa
pengantar roll film seperti Joni, bioskop tidak bisa memutar film. Hal ini
membuat kita berpikir ulang, bahwa pekerjaan apa pun, sekecil apa pun, punya
arti pentingnya sendiri.
Ada
juga sindiran tentang perfeksionisme dan materialisme yang diperlihatkan lewat
karakter Otto (Surya Saputra), pacar Angelique. Otto digambarkan sebagai pria
yang rela membayar lebih demi mendapatkan kursi bioskop yang sempurna. Karakter
ini menjadi representasi orang-orang yang menganggap uang bisa membeli
segalanya, meski nyatanya tidak selalu begitu.
Selain
itu, film ini juga berhasil menggambarkan era bioskop tahun 2000-an yang sangat
berbeda dengan saat ini. Kita diajak merasakan nostalgia saat roll film masih
digunakan, lengkap dengan suasana Jakarta yang belum dipenuhi teknologi
canggih. Hal-hal ini menambah daya tarik Janji Joni, terutama bagi mereka yang
ingin bernostalgia dengan masa-masa awal 2000-an.
Joni
bukanlah karakter protagonis yang klise. Ia adalah sosok yang optimis, gigih,
dan suka menolong, meskipun seringkali kebaikannya malah membawa masalah bagi
dirinya sendiri. Contohnya, saat Joni menolong seorang kakek menyeberang jalan,
motornya justru dicuri. Namun, bukannya menyerah, Joni tetap semangat
menyelesaikan tugasnya mengantar roll film. Sifat pantang menyerah ini membuat
Joni menjadi karakter yang mudah disukai dan bisa dijadikan inspirasi.
Nicholas
Saputra berhasil memerankan Joni dengan baik. Kita biasa melihat Nicholas
dengan peran yang serius dan kalem, namun di film ini, ia menunjukkan sisi
berbeda yang lebih ekspresif dan kocak. Meski peran komedi bukanlah yang biasa
ia ambil, Nicholas tetap tampil memukau dan berhasil membawa karakter Joni
menjadi hidup. Sebuah performa yang membuatnya memenangkan penghargaan Aktor
Favorit di MTV Indonesia Film Awards 2005.
Selain
pemeran utamanya, Janji Joni juga dibanjiri oleh cameo-cameo dari aktor
terkenal yang menambah keseruan cerita. Ada Tora Sudiro, Winky Wiryawan, Lukman
Sardi, hingga Barry Prima sebagai sopir taksi. Kehadiran para bintang tamu ini
bukan hanya tempelan semata, tapi mereka semua memerankan karakter yang
memorable dan menyegarkan. Salah satu yang paling diingat tentu saja Barry
Prima, yang menjadi sopir taksi dengan nama Jaka S, mengingatkan kita pada
karakter ikonik yang pernah ia perankan pada film-film sebelumnya.
Film
ini juga didukung oleh musik-musik keren yang sesuai dengan selera dan gaya
Joko Anwar. Ada beberapa lagu yang memorable di film ini seperti Konservatif
dari The Adams dan Senandung Maaf dari White Shoes & The Couples Company. Soundtrack
yang dipilih memberikan nuansa tambahan pada adegan-adegan penting, memperkuat vibes
film yang penuh energi dan keseruan. Ditambah lagi sinematografi yang digunakan
juga memberikan sentuhan vintage yang memanjakan mata, dengan warna-warna yang
hangat dan suasana perkotaan yang otentik. Janji Joni juga berhasil meraih
berbagai penghargaan di ajang Festival Film Indonesia, termasuk untuk editing
terbaik, menegaskan kualitas teknis yang tinggi dari film ini.
Meski
terlihat sederhana, Janji Joni adalah film yang kaya dengan pesan dan makna.
Dari kisah cinta sederhana hingga kritik sosial, semua disampaikan dengan humor
yang jenaka dan cerdas. Film ini bukan hanya tentang Joni yang berjuang
mengantar roll film, tapi juga tentang kita yang berjuang menjalani hidup
dengan segala tantangannya.
Janji
Joni mungkin bukan film komedi-romantis paling romantis atau paling lucu yang
pernah ada, tapi jelas merupakan film yang menyenangkan untuk ditonton. Bagi
yang belum pernah menonton, atau yang ingin bernostalgia dengan masa-masa awal
2000-an, film ini adalah pilihan yang tepat. Sebagai karya awal dari Joko Anwar
sebelum ia terkenal dengan film-film horor-nya. Janji Joni tetap menjadi salah
satu film lokal yang ikonik dan patut di rewatch.
Jadi,
siapkah kamu untuk ikut dalam petualangan seru bersama Joni?
