Generasi
Z dan Alpha tumbuh dalam dunia serba digital yang menawarkan akses informasi
tak terbatas, namun ironisnya, justru mengalami penurunan pemahaman pengetahuan
umum. Alih-alih menjadi generasi paling terdidik, mereka sering kali terjebak
dalam pusaran konten hiburan media sosial yang dangkal. Fenomena ini tidak
hanya menunjukkan kecenderungan penggunaan teknologi untuk hal-hal yang tidak
produktif, tetapi juga mencerminkan pergeseran budaya yang mengancam fondasi
intelektual masa depan.
Mari
kita mulai dengan realita pahit, di era di mana informasi dapat diakses dengan
mudah, seharusnya pengetahuan umum menjadi bagian dari keseharian generasi
muda. Namun, penelitian menunjukkan hal yang sebaliknya. Berdasarkan laporan
dari National Center for Education Statistics (2023), pengetahuan dasar
dalam geografi, sejarah, dan sains menurun di kalangan pelajar Amerika Serikat.
Hal ini tidak hanya terjadi di Barat, di Indonesia, menunjukkan hal serupa.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial yang semakin
mendominasi waktu dan perhatian mereka.
Media
sosial, khususnya TikTok, Instagram, dan YouTube, kini menjadi “guru baru” bagi
generasi muda. Namun, alih-alih memberi konten yang berfaedah, platform ini
lebih banyak memberikan ruang pada konten hiburan yang memicu gelak tawa dan
tren viral yang kosong. Dalam buku The Shallows: What the Internet Is
Doing to Our Brains karya Nicholas Carr, menjelaskan bagaimana konsumsi
konten yang dangkal dan instan dapat mempengaruhi cara otak memproses
informasi. Fokus pada hal-hal yang cepat dan instan menyebabkan generasi muda
kehilangan kemampuan berpikir dan menganalisis informasi secara kritis.
Kecepatan
dan ketersediaan konten di media sosial menciptakan budaya FOMO (Fear of
Missing Out), yang membuat generasi ini lebih memilih mengonsumsi apa yang
sedang viral daripada mempelajari pengetahuan yang bermanfat. Memang benar,
mereka bisa dengan cepat menjawab siapa influencer yang sedang viral atau tren
meme yang sedang populer, tetapi ketika ditanya tentang fakta sejarah atau nama
negara di peta dunia, banyak dari mereka yang kebingungan bahkan sering kali
tidak bisa menjawab. Fenomena ini mengindikasikan adanya krisis prioritas,
hiburan lebih diutamakan daripada pendidikan.
Kritik
keras pada generasi ini sebenarnya bukan tanpa dasar. Psikolog Jean Twenge,
dalam bukunya iGen, menunjukkan bahwa meskipun generasi Z adalah
kelompok yang paling terhubung dengan teknologi, mereka juga kelompok yang
paling kesulitan dalam memahami konsep dasar dan mengolah informasi secara
kritis. Twenge menyoroti bagaimana kebiasaan scroll media sosial tanpa henti
telah mengikis kemampuan mereka untuk fokus pada satu topik lebih dari beberapa
menit. Proses belajar yang biasanya memerlukan konsentrasi dan waktu telah
tergantikan dengan proses konsumsi informasi yang singkat dan mudah lupa.
Platform
seperti TikTok dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin
dengan mengalirkan konten-konten yang ringan dan menghibur. Dalam buku The
Attention Merchants karya Tim Wu, kita diperingatkan akan bahaya ekonomi
perhatian, di mana perhatian publik dieksploitasi demi keuntungan iklan. Generasi
muda yang menjadi target utama platform ini, akhirnya, lebih banyak
menghabiskan waktu untuk video-video berdurasi pendek yang menghibur daripada
konten edukatif. Bahkan sekalipun mereka mengonsumsi video “edukasi,” konten
tersebut sering kali lebih berfokus pada penyajian yang menarik daripada
substansi yang mendalam.
Kritik
ini bukan hanya tentang kebodohan individu, tetapi juga tentang bagaimana media
sosial telah menciptakan ekosistem yang memupuk kebodohan. Kehadiran algoritma
yang terus-menerus merekomendasikan konten serupa berdasarkan preferensi
pengguna membuat mereka terjebak dalam echo chamber. Akibatnya,
pengetahuan mereka terbatas pada apa yang dianggap menarik oleh algoritma,
bukan pada hal-hal yang seharusnya mereka ketahui sebagai bagian dari
pengetahuan dasar manusia. Kita telah melihat bagaimana ini berkontribusi pada
peningkatan penyebaran misinformasi, yang ironisnya sering kali lebih dipercaya
daripada fakta yang diverifikasi.
Hal
ini juga tidak lepas dari kelemahan sistem pendidikan yang gagal beradaptasi
dengan cara berpikir generasi baru. Kurikulum yang statis dan metode
pembelajaran yang monoton semakin membuat pengetahuan umum dianggap tidak
relevan dan membosankan. Di saat guru berbicara tentang sejarah perang dunia, para
siswa mungkin sudah asyik menonton video prank di YouTube. Kehilangan fokus ini
menunjukkan bahwa pendidikan harus direformasi agar lebih adaptif terhadap
perubahan zaman tanpa mengorbankan esensi pengetahuan dasar.
Pada
akhirnya, kita menghadapi paradoks yang ironis, generasi yang paling terhubung
secara digital justru menjadi generasi yang paling terputus dari pengetahuan
dasar. Jika situasi ini dibiarkan tanpa perbaikan, kita akan menghasilkan
generasi yang mungkin paham seluk-beluk dunia maya, tetapi buta terhadap dunia
nyata. Media sosial yang seharusnya menjadi alat edukasi telah menjadi panggung
kebodohan kolektif, di mana informasi yang bernilai kalah oleh konten yang
viral. Kita tidak bisa hanya menyalahkan generasi ini, ada tanggung jawab besar
pada sistem pendidikan, orang dewasa, dan teknologi yang kita ciptakan.
Kritik
ini bukan hanya untuk Generasi Z dan Alpha, tetapi juga untuk kita semua yang
membiarkan mereka tumbuh dalam lingkungan digital yang hanya menonjolkan
hiburan. Media sosial tidak sepenuhnya buruk, tetapi cara kita menggunakannya
yang perlu diubah. Karena jika tidak, kita akan melihat generasi yang lebih
mengenal influencer daripada tokoh-tokoh nasional, lebih paham tren viral
daripada sejarah bangsa. Dan itu adalah kegagalan kita sebagai masyarakat,
bukan hanya mereka.
Jadi, apakah kita siap berubah? Atau kita akan tetap tertawa melihat kebodohan di media sosial, sementara kita sendiri diam-diam ikut berkontribusi dalam penurunan kualitas pengetahuan generasi masa depan?
