BRICS dan Kebijakan Luar Negeri Bebas-Aktif Indonesia di Bawah Prabowo


Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto, Indonesia dapat memanfaatkan posisi geografis dan kekuatan ekonominya untuk mengadopsi kebijakan luar negeri yang seimbang dan independen. Prabowo tampaknya memahami betul pentingnya menjalin hubungan dengan dua kekuatan global utama—Amerika Serikat dan Tiongkok—tanpa berpihak pada salah satunya. Sebagai negara dengan populasi besar dan ekonomi yang berkembang pesat, Indonesia memiliki daya tawar yang kuat, terutama dalam menjaga stabilitas di kawasan Asia Tenggara serta Laut China Selatan, yang memiliki kepentingan strategis dan ekonomi bagi beberapa negara, termasuk Tiongkok, Vietnam, Malaysia, dan Filipina.

Presiden Prabowo Subianto, tengah berupaya memperkuat posisi globalnya melalui kebijakan luar negeri yang strategis, salah satunya dengan meningkatkan peran dalam BRICS. Langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk menyeimbangkan hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta memperluas kemitraan dengan negara-negara Global South, yang sesuai dengan prinsip non-blok dan bebas-aktif yang telah lama menjadi landasan kebijakan luar negeri Indonesia. Di tengah ketidakpastian geopolitik, BRICS menjadi sarana bagi Indonesia untuk menghindari ketergantungan pada blok tertentu sambil memperkuat kedaulatan ekonomi dan keamanan.

Keinginan Indonesia untuk bergabung dengan BRICS mencerminkan strategi netralitas aktif yang ingin diterapkan oleh Prabowo. Langkah ini bertujuan untuk membuka peluang ekonomi baru di luar negara-negara Barat, serta mendukung ambisi ekonomi domestik melalui penguatan infrastruktur dan diversifikasi sumber pendanaan, khususnya melalui New Development Bank yang lebih fleksibel daripada lembaga Barat. Sebagai blok yang berfokus pada kerja sama negara-negara berkembang, BRICS menawarkan platform bagi Indonesia untuk memperkuat otonomi ekonominya dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS, yang selaras dengan tujuan Prabowo untuk ketahanan ekonomi yang lebih mandiri.

Namun, Prabowo tidak hanya berfokus pada BRICS. Pendekatannya juga akan melibatkan peningkatan keterlibatan dengan Amerika Serikat dan Tiongkok. Posisi Indonesia yang berada di jalur utama Laut China Selatan menempatkan negara ini di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat. Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam sengketa wilayah di Laut China Selatan, ZEE Indonesia di Laut Natuna sering menghadapi tantangan dari kehadiran kapal asing. Prabowo diharapkan untuk memperkuat pertahanan maritim demi menjaga kedaulatan Indonesia dan menggarisbawahi pengaruhnya di kawasan tersebut. Indonesia mungkin akan mengintensifkan kerja sama militer dengan Amerika Serikat sambil tetap mempertahankan hubungan ekonomi yang erat dengan Tiongkok untuk menyeimbangkan kekuatan di kawasan ini.

Indonesia di bawah Prabowo juga dapat menjadi jembatan antara negara berkembang dan negara maju. Sebagai negara anggota ASEAN yang netral, Indonesia memiliki posisi unik untuk menyeimbangkan hubungan antar kekuatan besar, sambil tetap memprioritaskan persatuan dan stabilitas ASEAN. Pendekatan ini, yang disebut dengan multi-vektor, menekankan kemitraan yang saling menguntungkan tanpa terjebak dalam ketegangan antara AS dan Tiongkok. Dengan menjadi anggota BRICS, Indonesia juga dapat memperkuat kepemimpinannya di ASEAN dan berperan dalam mendorong integrasi regional yang kuat untuk menyeimbangkan pengaruh eksternal.

Integrasi Indonesia ke dalam BRICS, meskipun mengindikasikan langkah menjauh dari ketergantungan terhadap blok Barat, juga memberi ruang bagi diplomasi aktif yang mengedepankan netralitas aktif. Konsep ini memungkinkan Indonesia untuk menjalin hubungan yang kuat baik dengan AS maupun Tiongkok, menarik investasi dari kedua belah pihak tanpa harus memihak secara keduanya. Dalam jangka panjang, pendekatan ini dapat membantu Indonesia mempertahankan otonomi politik sambil memaksimalkan manfaat ekonomi dari hubungan bilateral yang saling menguntungkan.

Di bawah kepemimpinan Prabowo, Indonesia dapat diharapkan untuk menerapkan kebijakan luar negeri yang berfokus pada kemandirian strategis, memperkuat pertahanan maritim, dan membangun jaringan aliansi yang lebih luas di kawasan global. Dengan langkah-langkah ini, Prabowo bertujuan untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain yang lebih berpengaruh dalam percaturan global yang terus berubah.

Lebih baru Lebih lama