Jakarta, Kilauan Semu di Tengah Kelamnya Kenyataan


Jakarta seringkali dikemas dengan narasi kota metropolitan yang gemerlap, dan menawarkan segalanya bagi mereka yang ingin naik kelas. Tapi apakah benar begitu? Apa iya kota ini benar-benar gemerlap dan bersinar terang seperti lampu-lampu di Sudirman saat malam? Bagi kebanyakan orang yang tinggal di sini, kehidupan mungkin tidak seindah yang dilihat di layar TV atau di Instagram.

Tulisan tajam dari Seno Gumira Ajidarma dalam Affair mengingatkan kita untuk tidak tertipu dengan kemasan permukaan yang sering kali kita lihat di layar televisi atau di majalah gaya hidup. Di balik gedung pencakar langit dan mall-mall megah, Jakarta sebenarnya menyimpan wajah-wajah kelam yang berjuang di bawah tekanan sosial dan ekonomi yang sangat berat.

Apa yang sering terpinggirkan dalam narasi kota metropolitan ini adalah kehidupan jutaan pekerja yang sehari-harinya diwarnai oleh tekanan ekonomi dan ketidakpastian masa depan. Jakarta lebih tampak sebagai pusat bisnis yang mengeksploitasi manusianya sebagai alat produksi tanpa memikirkan kesejahteraan mereka. Setiap hari, jutaan orang bangun di pagi buta, berebut transportasi umum yang sesak, menghabiskan waktu berjam-jam di jalan, hanya untuk pulang dengan tenaga yang terkuras habis, tanpa jaminan kehidupan yang lebih baik.

Kondisi ini sebenarnya mengingatkan kita pada kritik kapitalisme yang disampaikan oleh Marx dalam Das Kapital. Marx menggambarkan bagaimana pekerja sering kali terjebak dalam sistem ekonomi yang hanya menghargai mereka sebagai alat produksi, bukan sebagai manusia. Dalam sistem ini, pemilik modal akan berusaha menekan biaya tenaga kerja demi meningkatkan keuntungan. Bagi para pekerja, harapan untuk sejahtera adalah sesuatu yang hampir tidak pernah mereka miliki, seolah-olah posisi mereka sudah ditetapkan untuk terus berada di bawah.  Di Jakarta, mungkin lebih nyata terasa, kapitalisme dalam bentuknya yang paling kasar memperlihatkan bagaimana pekerja hanya dianggap sebagai angka dalam laporan keuangan perusahaan. Buruh diperlakukan sebagai aset yang diupah minimum, yang terkadang hanya naik sedikit demi sedikit ketika ada aksi protes atau ancaman mogok kerja.

David Harvey dalam A Brief History of Neoliberalism mengatakan bahwa kapitalisme di kota-kota besar cenderung memperlebar ketimpangan sosial dan ekonomi, dengan keuntungan yang mengalir ke segelintir pihak yang menguasai modal. Harvey menyoroti bahwa di bawah sistem ini, kesejahteraan hanya dianggap sebagai efek samping, bukan tujuan, sehingga masyarakat bawah hanya dipandang dari nilai kegunaan mereka bagi roda ekonomi yang lebih besar.

Bisa dibilang, ekonomi kota yang katanya berkembang pesat ini seolah tidak pernah menyentuh mereka yang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Mereka tetap terpinggirkan, tetap menjadi penonton dari gemerlapnya kota yang mungkin hanya tinggal dalam mimpi.

Banyak orang mungkin bertanya-tanya, mengapa gap antara kaya dan miskin di kota ini justru semakin melebar? Inilah wajah lain dari Jakarta, kota yang gemerlap di permukaannya, tetapi menyimpan duka di dalamnya. Seno dalam Affair-nya menggambarkan dengan tepat bahwa keindahan kota ini adalah semu. Kegemerlapan Jakarta tidak menyentuh semua orang, hanya sebagian yang bisa menikmatinya, sementara yang lain hanya menatap dari kejauhan, termarjinalkan dalam kesenjangan sosial yang terus menganga lebar. Gemerlap Jakarta mungkin memang nyata bagi segelintir orang, tapi bagi kebanyakan warganya, ia adalah kota yang tidak pernah lelah menyajikan mimpi dengan harga yang terlalu mahal.

Di sini, kelas sosial memainkan peran besar dalam menentukan apa yang bisa dan tidak bisa dinikmati oleh seseorang. Bagi mereka yang berpenghasilan cukup tinggi, akhir pekan bisa berarti makan di restoran mahal, nongkrong di kafe-kafe fancy, atau pergi ke bioskop kelas premium. Tapi bagi pekerja yang hanya mampu bertahan hidup dari hari ke hari, hiburan pun merupakan kemewahan yang jarang bisa dirasakan.

Bila kita mengambil perspektif sosiolog Prancis Pierre Bourdieu, yang terkenal dengan konsep kapital sosial dan kulturalnya, tampak jelas bahwa kapital budaya di Jakarta juga sangatlah timpang. Bourdieu menekankan bagaimana kapital budaya seperti pendidikan dan akses ke hiburan dapat mempengaruhi posisi seseorang dalam struktur sosial. Di Jakarta, orang-orang yang mampu mengakses kegemerlapan cenderung mereka yang punya modal besar, baik modal finansial maupun modal sosial. Mereka bisa menikmati akses ke ruang-ruang sosial bergengsi, yang seolah-olah menegaskan status mereka sebagai ‘pemenang’ dalam kehidupan kota ini. Sebaliknya, bagi warga yang hidupnya di pinggiran atau di gang-gang kecil yang kumuh, ruang untuk menikmati kebahagiaan pun menjadi sempit.

Di satu sisi, mungkin benar bahwa ketidakadilan dan kesenjangan sosial adalah bagian dari pola hidup di kota besar mana pun. Tapi, apakah Jakarta tak bisa memberikan secuil kesejahteraan bagi seluruh penduduknya? Apakah setiap individu di kota ini harus puas hidup sebagai penonton dari gemerlap kehidupan yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang?

Sebagai warga Jakarta, mungkin kita perlu mulai mempertanyakan narasi kota gemerlapan yang selama ini diciptakan oleh media massa. Apa yang tampak berkilau dari luar belum tentu menunjukkan realita yang sebenarnya. Kota ini bukanlah kota yang gemerlap, tetapi kota yang terjebak dalam ilusi kegemerlapan semu. Kegemerlapan yang menutup-nutupi kenyataan bahwa mayoritas penduduknya hidup dalam kekurangan dan kesulitan yang kadang terasa tak berujung.

Mungkin Jakarta tidak perlu terus-menerus mencoba tampil sebagai kota global yang mewah dan penuh gaya. Alih-alih mencoba meniru kota-kota di luar negeri dengan gaya hidup yang gemerlap, kita bisa mulai fokus pada memperbaiki kualitas hidup seluruh warganya. Mungkin, kegemerlapan yang Jakarta butuhkan bukanlah dari megahnya bangunan atau keramaian pusat belanja, tapi dari semangat dan ketulusan warga yang saling mendukung untuk membangun kota yang lebih adil bagi semua warganya.

Lebih baru Lebih lama