Pada malam yang seharusnya menjadi momen bersejarah
bagi Rodrigo Hernandez (Rodri), penghargaan Ballon d'Or untuk gelandang
bertahan Manchester City tersebut justru dibayangi polemik dari klub raksasa
Spanyol, Real Madrid. Alih-alih menghormati kemenangan pemain asal Spanyol ini,
Real Madrid memutuskan untuk memboikot ajang penghargaan bergengsi itu, diduga
karena Vinicius Jr., yang dianggap layak oleh pihak klub, hanya menempati
posisi kedua.
Keputusan Real Madrid untuk absen pada malam
penghargaan di Theatre du Chatelet, Paris, menyorot bagaimana persaingan dalam
sepak bola kerap kali dipenuhi dengan ego dan ambisi yang berlebihan. Sikap
klub yang menolak hadir dengan alasan perbedaan pandangan terhadap hasil
penjurian, sungguh sangat disayangkan. Seharusnya, ajang penghargaan seperti
ini adalah momen untuk menghargai kerja keras dan pencapaian pemain, bukan
ajang untuk mempertontonkan sikap tidak sportif.
Vinicius Jr., yang selama ini menjadi andalan
di lini serang Madrid, mungkin merasa kecewa dengan hasil tersebut. Unggahan di
akun media sosial X-nya ia menyatakan ”Saya akan melakukannya 10 kali jika
perlu. Mereka tidak siap.”
Manajemen Vinicius mengatakan kepada Reuters bahwa
pernyataan tersebut mengacu pada perjuangannya melawan rasisme dalam sepak
bola. Menurutnya, dunia sepak bola belum siap menerima kehadiran pemain yang
berani melawan sistem.
Pernyataan
Vinicius kemudian dikaitkan dengan isu rasisme, suatu masalah nyata yang memang
ada dalam sepak bola. Namun, menjadikan ketidakpuasannya terhadap hasil
penjurian sebagai dalih untuk menyuarakan tuduhan rasisme bukanlah hal yang
tepat.
Sikap Real Madrid yang memilih absen di ajang
penghargaan dan komentar dari Vinicius sendiri, menimbulkan pertanyaan besar
mengenai integritas dan sportivitas mereka. Sebagai klub yang sudah berulang
kali memenangkan Liga Champions, Real Madrid seharusnya bisa menunjukkan sikap
yang lebih dewasa. Ajang penghargaan individu seperti Ballon d'Or diadakan
dengan proses penjurian yang terukur, dilakukan oleh juri internasional yang
terdiri dari 100 jurnalis dari 100 negara peringkat teratas FIFA. Dengan
mekanisme penjurian yang melibatkan penilaian dari banyak pihak yang beragam,
sangat sulit untuk membayangkan ada rekayasa dalam hasil akhirnya.
Dalam penentuan pemenang Ballon d'Or, para juri
mempertimbangkan tiga aspek utama: performa individu dan karakter, prestasi
tim, serta sikap berkelas dan fair play. Pemboikotan Real Madrid
terhadap acara tersebut seolah menunjukkan sikap tidak siap untuk menerima
hasil yang tidak sesuai ekspektasi mereka. Padahal, Vinicius sendiri berada di
peringkat kedua, disusul oleh beberapa rekannya di 10 besar, seperti Jude
Bellingham (3), Dani Carvajal (4), Kylian Mbappe (6), dan Toni Kroos (9). Hasil
ini menunjukkan bahwa para juri sebenarnya sudah memberikan apresiasi tinggi
kepada Real Madrid, tetapi karena keberadaan empat pemain Real Madrid lainnya
dalam daftar 10 besar mungkin turut memecah suara yang seharusnya bisa
terkonsentrasi untuk Vinicius, namun hal ini sepenuhnya berada di luar kendali
siapapun.
Hal ini semakin diperburuk dengan sikap Vinicius,
yang seolah tidak mampu menerima kenyataan bahwa ada pemain lain yang dianggap
lebih layak. Alih-alih menjadikan momen ini sebagai refleksi untuk terus
berkembang, Vinicius malah membuat komentar yang bisa menjadi bumerang baginya.
Tuduhan rasisme yang ia lontarkan, meskipun sangat relevan dengan pengalaman
buruk yang pernah ia alami, malah bisa menimbulkan kesan seolah ia memainkan
isu rasisme. Dalam konteks penghargaan ini, mengangkat isu rasisme tanpa bukti
yang kuat bisa mencederai perjuangan melawan rasisme itu sendiri, karena dapat
dinilai sebagai usaha untuk mengundang simpati atau bahkan mengesampingkan
sportivitas, dan tentu saja bisa merusak citra klub dan pemain.
Jika kita melihat ke belakang, penghargaan Ballon
d'Or adalah pencapaian yang diidamkan banyak pemain sepak bola. Rodri telah
melalui musim yang luar biasa bersama Manchester City, memenangkan treble
bersama timnya dan berperan besar dalam kesuksesan Timnas Spanyol dalam meraih
Piala Euro. Penghargaan ini adalah pengakuan atas kontribusi, konsistensi, dan
kerja kerasnya. Sikap Vinicius Jr. yang menolak hadir bukan hanya mencoreng
momen penting bagi Rodri, tetapi juga menunjukkan minimnya rasa hormat terhadap
sesama pemain yang sudah berjuang keras di lapangan.
Absennya Real Madrid pada malam penghargaan Ballon
d'Or ini juga dapat menjadi contoh buruk bagi dunia sepak bola. Dalam olahraga,
terutama sepak bola, tidak selalu mungkin untuk meraih hasil sesuai harapan.
Ada saat ketika kekalahan harus diterima dengan kepala tegak, dan kemenangan
dihargai sebagai buah dari kerja keras. Pemboikotan oleh Real Madrid ini
menunjukkan kurangnya sikap ksatria dan nilai sportivitas yang menjadi dasar
dalam sepak bola.
Dalam dunia olahraga yang semakin terbuka dan menuntut profesionalisme tinggi, sepak bola seharusnya menjadi tempat yang bebas dari politik internal dan ego yang berlebihan. Kritik keras yang diajukan oleh Real Madrid terhadap Ballon d’Or bukan hanya tindakan yang tidak sportif, tetapi juga memperlihatkan sisi lain dari ketidakmatangan untuk menerima hasil penjurian yang objektif. Dengan demikian, sudah saatnya bagi klub-klub besar seperti Real Madrid dan para pemain untuk memahami bahwa sikap sportif jauh lebih penting daripada sekadar mengamankan piala.
